Sabtu, 17 Oktober 2009

Inilah kesalahan-kesalahan penggunaan imbuhan dan kata ulang.

1. Penggunaan awalan ke – dari Bahasa Jawa
Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal awalan ke- dalam bentukan kata kekasih, ketua, keputusan, kesunyian. Yang sering terjadi adalah penggunaan awalan ke- yang berasal dari Bahasa Jawa seperti pada kata-kata: ketawa, ketemu, ketabrak, ketubruk. Karena dalam Bahasa Indonesia baku ada awalan yang fungsinya sama, maka ucapan yang benar adalah: tertawa, bertemu, tertabrak, tertubruk.
2. Penggunaan akhiran-an dan konfiks ke-an
Dalam Bahasa Indonesia pada umumnya akhiran-an berfungsi pembentuk kata benda misalnya: pikulan, manisan, daratan, dsb. Karena pengaruh Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda kita jumpai penggunaan akhiran-an dengan fungsi yang lain misalnya pada kata: murahan, sekolahan, jalanan, bagusan, kebesaran, kesempitan, kekecilan, kecapaian, seharusnya: lebih murah, sekolah, jalan, lebih bagus, terlalu besar, terlalu sempit, terlalu kecil, terlalu capai.
3. Penggunaan sufiks asing-is,-sasi,-tas
Selama sufiks asing itu bermanfaat dan Bahasa Indonesia tidak memiliki padanannya yang tepat, sufiks asing itu bias diterima jika imbuhan Bahasa Indonesia dapat menggunakan konsep yang sama, sufiks asing tersebut tidak perlu kita pakai. Sufiks-sasi berpadanan dengan konfiks peng-an, dan sufiks-tas sering berpadanan dengan konfiks ke-an. Kita bandingkan;
kristalisasi – pengkristalan
kaderisasi – pengkadera
efektivitas – keefektifan
produktivitas – keproduktifan
4. Kerancuan penggunaan konfiks
– konfiks per-an + tanggung jawab menjadi pertanggungjawaban bukan bertanggunganjawab.
– konfiks di-kan pada bentuk kata diajarkan, konfiks di-is pada bentuk dipelajari, kedua konfiks tersebut digunakan sekaligus menjadi dipelajarkan (inilah kerancuan).
– konfiks me-kan + ke samping menjadi mengesampingkan bukan mengenyampingkan.
5. Penggunaan sufiks-wan yang sering salah
sufiks-wan hanya melekat pada kata benda. Contohnya wartawan, budayawan, hartawan, dermawan. Yang tidak benar bila: Pirsa (kata kerja) jika ditambah-wan menjadi pirsawan. Yang benar: pemirsa, ilmuwan, bukan ilmiawan (ilmiah= kata sifat), rohaniwan, bukan rohaniawan (rohani= kata sifat)
6. Kerancuan penggunaan kata ulang.
1.berulangkali bentuk kata yang salah karena berasal dari dua kata ulang yang  
  seharusnya dipakai sendiri-sendiri pada kalimat yang berbeda;
  a). Ia berulang-ulang melakukan kesalahan.
  b). ia berkali-kali melakukan kesalahan
2.Banyak rumah-rumah, bentukan kata ini merupakan kerancuan, karena berasal  
  kata ulang dan bentuk kata lain yang searti yang seharusnya dipakai sendiri- sendiri pada kalimat yang  
  berbeda.
  a). banyak rumah dirobohkan petugas kantib kota.
  b). rumah-rumah dirobohkan petugas kamtib kota.


MEMAHAMI KATA DENOTATIF DAN KONOTATIF
Denotatif berasal dari kata denotasi
Denotasi = arti sebenarnya = arti yang paling dekat dengan bendanya = arti yang secara umum terdapat dalam berbahasa = arti leksikal = arti yang terdapat dalam kamus
Kata yang bermakna denotatif ialah kata yang mengandung arti sebenarnya, yang tidak mengandung tambahan rasa, tidak mengandung arti kiasan. Kata denotative terdapat dalam karya ilmiah atau bahasa hokum.
Konotatif berasal dari konotasi
Konotasi= arti yang timbul disamping arti sebenarnya. Kata yang bermakna konotatif ialah kata yang mengandung pengertian rangkap= kata yang mengendung kiasan= kata yang mengandung nilai rasa tertentu. Kata konotatif banyak dipakai dalam karya sastra.
Contoh a) Rumah yang bercat merah itu milik Umar. (denotatif)
  b) Pemuda selalu berdarah merah. (konotatif= arti kiasan)
  a) Rumah mereka berada di daerah yang kotor. (denotatif)
  b) Rumah mereka berada di daerah yang kumuh. (konotasi=mengandung nilai rasa 
  tertentu yakni kotor dan miskin) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar